JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan mengumumkan capaian inflasi Maret 2019. Ekonom Institute for Development on Economic (INDEF) Bhima Yudhistira memprediksi bakal terjadi inflasi sebesar 0,05 – 0,1 persen month to month (mtm)
“Faktornya beberapa komponen bahan pangan seperti bawang merah, cabai yang sensitif cuaca hujan harganya naik spanjang maret. Tapi komponen lain seperti ayam, telur justru mengalami penurunan,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (1/4).
Dikatakan Bhima, tekanan dari sisi bahan makanan pada inflasi belum terlalu besar. Diperkirakan, pada April 2019 tekanan itu datang.
“Kemungkinan April jelang ramadhan baru menunjukkan kenaikan harga,” kata dia.
Inflasi inti yang sebelumnya tercatat sebesar 3,06 persen, diperkirakan bakal bergerak rendah. Hal itu dikarenakan masih belum terdorongnya konsumsi rumah tangga seiring faktor musiman.
“Saat pemilu dan jelang ramadan baru nanti kita cek apakah konsumsi rumah tangga naik diatas ekspektasi dan mendorong inflasi (demand pull),” imbuhnya.
Sementara itu dari sisi administered price, diyakini belum ada perubahan yang cukup signifikan. Pasalnya, menjelang pelaksanaan pemilu sejumlah harga tidak akan mengalami kenaikan.
“Ini mendorong stabilnya inflasi harga yang diatur pemerintah,” ungkapnya.
Sebelumnya, BPS mencatat deflasi sebesar 0,08 persen pada Februari 2019. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari) sebesar 0,24 persen dan tingkat inflasi tahunan sebesar 2,57 persen.
Deflasi pada Februari ini terjadi karena penurunan harga di beberapa kelompok pegeluaran yakni kelompok bahan makanan yang turun 1,11 persen.
Menurut BPS, beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada Februari yaitu daging ayam ras, cabai merah, telur ayam, bawang merah, bensin, cabai awit, ikan segar, wortel dan jeruk