JawaPos.com – Seekor harimau Sumatera terkena jerat pemburu liar di Kabupaten Pelalawan, Riau. Si belang yang kemudian diberi anam Inung Rio sempat terluka. Tapi kini sudah mulai pulih setelah mendapat perawatan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD), Sumatera Barat. Inung Rio juga mulai agresif dan mandiri.
Setelah dievakuasi akhir pekan lalu ke PRHSD, harimau berusia sekitar 4 tahun itu ditempatkan di kandang perawatan. Dia akan menjalani masa karantina selama 14 hari kedepan.
“Dia bisa minum. Jalan untuk minum sendiri. Makan daging babi 2 kilogram lebih yang disiapkan. Agresifitas sudah mulai aktif. Luka di kaki dilakukan pengobatan terus, diharapkan bisa sembuh secepatnya tanpa harus diamputasi,” ungkap Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono, Kamis (28/3).
Pemberian obatanti radang dan lukanya yang telah dibersihkan sudah mulai berdampak terhadap kaki satwa dengan nama latin Panthera tigris sumatrae tersebut. “Kakinya sudah cenderung kecil dari pada sebelumnya saat dievakuasi. Hari ini, rencananya dilakukan rekam medik secara keseluruhan,” kata Suharyono.
Inung dirawat 4 dokter hewan dan para medis dari BBKSDA Riau dan PRHSD. “Rencananya melakukan check up secara menyeluruh terhadap Inung Rio. Pemberian obat antiradang tadi sudah agak bagus,” sebutnya.
Jika luka di kaki kiri Inung sudah sembuh, selanjutnya akan dipertimbangkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. “Orientasi tidak memindahkan harimau Sumatra ke lembaga konservasi atau kebun binatang. Rencananya secepatnya kembali melakukan lepas liar di habitat aslinya. Ini memerlukan waktu yang cukup,” ujar Suharyono.
Untuk pengembalian ke alam, BBKSDA Riau akan mengobservasi lokasi yang benar-benar seperti habitat aslinya. “Karena harimau Sumatera habitat aslinya ada di hutan gambut. Sehingga mau tidak mau alternatif pelepasliaran harus di hutan rawa,” bebernya.
Selain itu, tim BBKSDA harus menjamin ketersediaan pangan di lokasi akan dilepaskannya Inung. Pakan liar alami seperti monyet ekor panjang, babi, rusa, ada binatang yang menjadi buruannya. Kalau tidak ada, itu bukan tempat yang layak untuk Inung Rio.
“Itu perlu survei dan pengamatan terhadap lapangan yang cukup. Sehingga tidak kesesuaian jenis habitat tapi juga ketersediaan cadangan pakan,” ucap Suharyono.
