JawaPos.com–Pimpinan DPRD Surabaya menilai konsep moda transportasi massa berbasis rel, bisa terwujud. Syaratnya ada kerja sama dan melibatkan semua unsur seperti pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jatim, dan Pemerintah Kota Surabaya.
Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti mengatakan, jika pengguna bus makin meningkat, penambahan moda transportasi berbasis rel saat terealisasi akan optimal. Menuju kota bertaraf internasional, Surabaya sangat mungkin punya moda transportasi berbasis rel. ”Tapi ini akan dapat terwujud melalui kerja sama semua pihak,” kata Reni.
Menurut Reni, Perpres 80 Tahun 2019 mencantumkan Surabaya menjadi salah satu kota guna percepatan pembangunan ekonomi di Jawa Timur. Jadi rencana pembangunan infrastruktur transportasi dapat terwujud dengan solusi skema pembiayaan. ”Pemkot Surabaya harus menyambut itu dengan sigap,” ujar Reni.
Selain itu, lanjut Reni, tahun ini, Kementerian Perhubungan juga menawarkan ke beberapa kota termasuk Surabaya program Buy The Service (BTS). Program itu bisa mengurangi headway moda transportasi bus. Surabaya bisa jemput bola program BTS untuk bisa realisasikan pada 2021.
Pada era kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah mengonsep sistem transportasi masal trem untuk koridor utara–selatan dan LRT untuk koridor timur–barat. Namun hingga satu tahun sisa akhir masa pengabdiannya, gagal direalisasikan karena faktor pembiayaan yang tidak cukup dibebankan hanya dengan APBD.
Salah satu kendala utama memang persoalan pembiayaan. Padahal secara regulasi sudah tersuport di Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW ) di mana moda transportasi berbasis rel sudah diatur. “Beberapa hal yang belum tuntas, perlu dikaji mendalam dan disolusi bersama. Semoga apa yang sudah dipikirkan dan diupayakan wali kota saat ini bisa terealisasi oleh wali kota selanjutnya,” kata Reni.